Tangerang Selatan, 17 Agustus 2026 — Pertanyaan “Kapan Kita Berdaulat?” menjadi tema utama Gelar Kebudayaan Partai Hijau Indonesia (PHI) yang berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026 di Kawasan Pasar Gintung, Tangerang Selatan. Kegiatan ini mempertemukan seni, warga, komunitas, dan pelaku UMKM melalui musik, puisi, seni rupa, mimbar warga, serta berbagai bentuk ekspresi publik.
Gelar kebudayaan ini berlangsung melalui kolaborasi PHI dengan Paguyuban Pelaku UMKM Pasar Gintung. Kolaborasi tersebut menempatkan kegiatan seni di tengah ruang aktivitas warga dan pelaku usaha di kawasan tersebut.
Kegiatan berlangsung pukul 15.30–20.00 WIB. Acara dibuka dengan sambutan tuan rumah dari Komunitas Seni Gintung, dilanjutkan sambutan Partai Hijau Indonesia dan pidato kebudayaan bertajuk “Apakah Kita Sudah Berdaulat?” yang disampaikan oleh perwakilan Pengurus Nasional Partai Hijau Indonesia.
Seni menjadi ruang untuk mempertanyakan kemerdekaan
Pertanyaan tentang kedaulatan kemudian diteruskan melalui berbagai bentuk seni. Komunitas Seni Tangsel membuka bagian musik dengan penampilan akustik. Rangkaian berikutnya diisi oleh Ira Paseban, Semut Tangsel, Lingkar Sajak, dan Ruang Merdeka Inspira melalui sajak dan puisi.
Panggung kemudian berlanjut dengan live painting atau seni rupa oleh Edi Bonetski dan poetry performance dari Jakarta Poetry Slam.
Salah satu bagian acara yang membuka ruang partisipasi publik adalah “Mimbar Bebas Warga”. Segmen selama 30 menit ini melibatkan Kolektif Perempuan Gila serta pengunjung, komunitas, dan seniman untuk menyampaikan suara dan pandangan mereka.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik utama Usman Hamid & The Black Stone selama 45 menit. Kegiatan ditutup dengan seruan bersama dan foto bersama PHI dengan seluruh pengisi acara.
Dari ruang seni ke ruang warga
Pemilihan Pasar Gintung menjadi bagian dari konteks kegiatan. Panggung ditempatkan di ruang yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Melalui kolaborasi dengan Paguyuban Pelaku UMKM Pasar Gintung, kegiatan ini mempertemukan agenda kebudayaan dengan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Bagi PHI, pertanyaan “Kapan Kita Berdaulat?” menjadi ruang untuk membicarakan kembali makna kemerdekaan melalui pengalaman warga, kebudayaan, demokrasi, dan kehidupan sehari-hari.
Gelar Kebudayaan PHI 2026 berlangsung terbuka dengan melibatkan berbagai komunitas seni dan masyarakat yang hadir di lokasi. Rangkaian acara menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai kemerdekaan dapat berlangsung melalui karya seni sekaligus ruang partisipasi.*
Reporter: Mego Widi Hakoso
Partai Hijau Indonesia | Gelar Kebudayaan PHI | Kapan kita berdaulat?
